Sejarah Singkat Kabupaten Lembata

By Administrator 28 Mei 2024, 07:08:18 WIB

STATEMENT 7 MARET 1954 TONGGAK AWAL

PERJUANGAN RAKYAT LOMBLEN

Indonesia Sudah Merdeka, Lomblen Tetap “Terjajah”.

17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Walaupun Indonesia telah Merdeka dengan semboyan sekali merdeka tetap merdeka, namun bagi Lomblen semboyan ini dirasakan, tidak berlaku. Karena walaupun Indonesia sudah merdeka tapi Lomblen merasa masih terjajah. Lomblen merasa terkukung dalam sistem pemerintahan serta lilitan kekuasaan colonial yang tidak menguntungkan bagi Lomblen. Masyarakat Lomblen terpecah dua menjadi wilayah paji dan demong, dibawah kekuasaan swapraja berbeda, Larantuka dan Adonara (sagu). Sistem dan cara pemerintahan yang dipaksakan kepada rakyat Lomblen di era swapraja terasa tidak adil, sangat merugikan dan sungguh sangat menghambat kemajuan Lomblen pada umumnya. 

Hal ini membuka mata pejuang-pejuang Lomblen, baik yang berada di Lomblen maupun yang di Luar Lomblen, yang semakin mengerti dan memahami secara baik bagian perjuangan RI dengan proklamasi 17 Agustus 1945. Rakyat Lomblen ingin turut serta mengisi kemerdekaan RI, untuk mencapai masyarakat Lomblen yang aman, tentram, sejahtera, dama dan adil makmur sesuai cita-cita Proklamasi RI 1945. Dan ini hanya dapat terlaksana bukan dalam sistim perpecahan pemerintahan, tapi persatuan dan kesatuhan Pemerintah di Lomblen.

Bagaimana Lomblen dapat keluar dari suasana terkukung seperti ini?. Para Tokoh Lomblen sadah bahwa untuk keluar dari lilitan kekuasaan yang tidak menguntukan ini perlu suatu perjuangan. Namun mereka pun sadar usaha dan perjuangan pemisahan diri dari kungkungan Paji-Demong yang jadi momok rakyat Lomblen ini, harus dilakukan secara cerdas. Cita-cita rakyat Lomblen ini harus diperjuangkan melalui seluruh perjuangan berupa partai politik. Mereka tidak menghendaki perjuangan ini dilakukan lewat cara kekerasan, yang justru hanya akan menuai kekerasan juga. Maka perjuangan politik pun mulai bergulir di tanah Lomblen. Diprakarsai sejumlah guru dan Tokoh muda usia yang visioner, yang mempelopori langkah perjuangan ini. Dan ini dilakukan beberapa tahun sebelum dicetuskannya Statement 7 Maret 1954.

Safari Keliling Lomblen, Serukan Persatuan Lomblen.

Salah seorang Tokoh muda yang dianggap memprakarsai dan memelopori perjuangan ini adalah Petrus Gute Betekeneng. Apa yang melatarbelakangi langkah perjuangannya yang terbilang berani dan nekad ini? Bukankah yang dihadapi adalah dua pemegang kekuasaan Swapraja sekaligus? Mengapa ia begitu bersemangat, ngotot bahkan nekad penuh keberanian memperjuangka ini bersama teman-temannya? Apa yang melatarbelakangi dirinya terjun ke bidang politik? Dan apa yang tetap membuatnya tetap tak kendor semangatnya bersafari keliling Lomblen menyeruhkan semangat persatuan rakyat Lomblen hingga terbentuknya kabupaten Lembata yang Otonomi? Kita coba tengok sejak awal kiprah politinya.

Pada tahun 1942, Petrus Gute Betekeneng lulus Standardschool di Larantuka dan pada 1944 lulus Opleiding Volks Onderwyzer (OVO) di Ende. Dalam usia 18 tahun, sejak tahun 1944-1946 beliau menjadi guru Sekolah Rakyat katolik (SRK) Lamalera. Salah seorang muridnya di Lamalera adalah Anto Enga Tifaona yang kemudian aktif mengiringi langkah gurunya ini dalam perjuangan Rakyat Lembata. Dari Lamalera ia pindah ke Lokea 1946-1948, lalu lewolaga 1948-1949, lantas menyeberang ke Hinga di Adonara 1949-1951. Karir gurunya di Lomblen di awali di Lamatuka 1951-1953, Kalikasa 1953-1955 lalu ke sejumlah desa di Lomblen, hingga terakir guru SDK Lewoleba I 1987. Tercatat 13 kali selalu pindah-pindah tempat dan lebih banyak menjadi guru bantu.

Sebagai guru muda, Guru Gute ternyata sebagai aktifis tulen. Beliau juga terjun dalam organisasi-organisasi seoerti PGK (Persatuan Guru Katolik), Pemuda Katolik dan lain-lain. Kursus politik dilaluinya segera setelah KPGA (Kursus Persamaan Sekolah Guru Atas). Bahkan tahun 1946-1948 bergabung bersama Dr. Soetomo Study Club dalam diskusi politik di Larantuka. Beliau tampil sebagai tokoh muda yang menonjol dan aktif sebagai pengurus baik di PGA maupun di partai politik. Parta, Organisasi, dan Agama yang diimaninya. Adalah tiga kata yang terus menobarkan roh dan semangat perjuangan dalam dirinya.

Pada tahun 1951, Guru muda bujangan berusia 25 tahun yang jadi guru bantu di Desa Lamatuka (1951-1953) kian terusik hatinya. Ia semakin serius memikirkan bagaimana bersama masyarakat Lomblen lainnya berbuat sesuatu bagi perbaikan nasip masyarakat Nusa Lomblen dengan melepaskan diri dari kekuasaan Paji-Demong yang dipaksakan buat rakyat Lomblen ini. Ia lalu mengambil insiatif dan memelopori Persatuan Rakyat Lomblen ini. Sejak tahun 1951-1954, saat menjadi Ketua Ranting Partai Katolik Lomblen Utara. Petrus Gute Betekeneng dengan kudanya yang bernama “Pelor” mulai berkeliling Lomblen. Ia Menyambangi ke 6 Hamante Kedang, Lewotolok, Kewela, Hadakewa, Lamalera dan Lebala, mengunjungi desa-desa di Lomblen serta mendatangi semua Rohaniwan di setiap Paroki serta para guru-guru di Sekolah.

Tujuan safarinya ini untuk sosialisasi perjuangan ini, sekaligus menyakinkan para Kapitan, Kakang, para Kepala Desa/Kepala Kampung, para Kepala Sekolah Rakyat dan Guru bantunya, para Pastor Paroki dan Imam Mesjid, para tokoh Agama, tokoh Masyarakat, tokoh Adat,  agar bersatu membebaskan diri dari system Paji-Demong yang melilit Lomblen dan agar bebas dari kekuasaan Swapraja Larantuka dan Adonara (sagu) yang memecah belah wilayah Lomblen. Ia tampil bersama rekan guru serta aktifis Partai Katolik menggalang kekuatan dan dukungan membangun semangat persatuan rakyat Lomblen. Ia ingin seluruh rakyat Lomblen bisa berjuang bersama agar lomblen mempuyai pemerintahan sendiri sebagai langkah mewujudkan cita-cita Proklamasi Negara RI 17 Agustus 1945. 

Inilah langkah awal mengiringi awal perjuangan panjang Rakyat Lomblen/Lembata, beberapa tahun sebelum dicetusnya “Statement 7 Maret 1954.” Setelah meyakinkan semua kakang dan kapitan yang mendukung perjuangan ini bersama seluruh rakyat Lomblen, langkah lanjutnya adalah merencanakan sebuah rapat akbar guna mendeklarasian perjuangan bersama ini. 

Gara-gara Tak Digubris, Nekad Lepaskan Diri dari Cengkeraman Paji Demon dan Swapraja

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1948, di Larantuka didirikan persatuan politik katolik flores (PERPOKAF) yang diketahui P.D Larantukan. Dalam bulan Desember 1949 PERPOKAF dibubarkan dan dileburkan ke dalam Partai Katolik dengan ketua umumnya I.J Kasimo, di Larantuka, Cabang Partai Katolik diketuai oleh A.BI., De Rosari yang membawahi semua ranting di Flores Timur. Ternyata upaya Lomblen untuk berdiri sendiri, tidak mendapat sambutan. Partai Katolik Cabang Flores Timur tida mengupayahkannya. Bahkan Lomblen sengaja dibagi dalam tiga ranting yakni: ranting Kedang, ranting Lomblen Utara dan Ranting Lomblen Selatan. Partai Katolik Ranting Lomblen Utara diketuai oleh Petrus Gute Betekeneng dengan sekertarisnya Stanislaus Lela Tufan. Namun Status ranting Partai Katolik tak mempunyahi hak otonom untuk perjuangan keluar. Segala perjuangan dari ranting Partai Katolik harus melalui Partai Katolik Cabang Larantuka.

Membaca situasi yang tidak menguntungkan ini, maka diam-diam Partai Katolik ranting Lomblen Utara yang diketuai Petrus Gute Betekeneng dan sekertarisnya Stanislaus Lela Tufan ‘bermain’. Mereka mengordinir dua ranting lainnya untuk bersatu merancang  perubahan di Lomblen. Dalam diri mereka hanya ada satu cita-cita, yakni: penghapusan swapraja Larantuka dan Adonara, dihilangkannya nama Paji dan Demong, dan Lomblen hanya mengenal satu kesatuan pertsaudaraan. Jelasnya, Lomblen harus berpemerintahan sendiri. Namun menurut Petrus Gute Betekeneng upaya ini tidak diapresiasi, secara kusus oleh Partai Katolik Cabang Larantuka. Usulan dari bawah agar Lomblen berdiri sendiri tidak dihiraukan, suara mereka selalu tidak digubris.

Pada bulan Januari 1954 diadakan Konferensi Gabungan Parta Katolik Komisariat Flores di Ende. Tujuannya, pertama menyusun daftar calon Partai Katolik untuk DPR dan Konstituante dalam pemilu I tahun 1955. Tujuan kedua, pemekaran cabang-cabang Partai Katolik se-Flores menjadi sub-Komisariat. Terbentuklah Komisariat Flores Timur di Larantuka yang diketuai oleh F.K Fernandes. Menurut Gute Betekeneng, usulan, saran dan pendapat dari ranting-ranting Lomblen tidak didengarkan. Mestinya dalam proses ini, Larantuka menyetujui agar Lomblen menjadi subkomisariat tersendiri. Dengan demikian perjuangan untuk berdiri sendiri dapat tercapai titik terang. Sanyangnya, perjuangan itu kandas. Ketua Delegasi Flores Timur, F.K Fernandes ternyata tidak menyampaikan usaulan itu. Usulan, sarandan pendapat dari ranting-ranting Lomblen tidak didengarkan. “Mereka berangkat atas anam dan mewakili Lomblen. Mereka mau mengatur semuanya untuk kita, tetapi tidak bersama kita dan tidak mendengar persetuajuan dari kita dan juga tidak melapor hasilnya,” tegas Petrus Gute Betekeneng, dalam wawancara penulis 1994 tentang perjuangan awal saat itu.

Panitia Aksi Perjuangan Rakyat Lomblen

Upaya legal yang ditempuh tokoh Lomblen melalui Partai Katolik Larantuka yang gagal, tidak lantas membuat pejuang Lembata patah semangat. Mereka lalu mengambil langkah yang lebih cerdas, berani, nekad namun strategis. Dengan tidak mendengar dan menunggu lagi petunjuk dari atas, tokoh Lomblen lalu mengadakan reformasi Partai Politik di Lomblen. Atas inisiatif Ketua Partai Katolik Ranting Lomblen Utara, Petrus Gute Betekeneng, dibentuklah Panitia Aksi Perjuangan Rakyat Lomblen dengan susunan Pengurus: Ketua: Petrus Gute Betekeneng; Wakil Ketua: Yan Notan da Proma; Sekretaris I: St. Lela Tufan; Sekertaris II: L.K Kedang; Bendehara I: Frans Paji Letor; Bendehara II: P. Wuring Beding; dan Pembantu: Yan Sego Lazar. Panitia Aksi Perjuangan Rakyat Lomblen ini bertugas membentuk Partai Katolik sub Komisariat Lomblen, dan pernyataan (Statement) bersama rakyat Lomblen berdiri sendiri, yang diwakili Partai Masyumi Cabang Kedang dan Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen.

Langkah yang ditempuh oleh Partai Katolik Ranting Lomblen Utara ini ternyata berlanjut, tidak berhenti disini. Langkah dari inisiatif ini dibuat lebih luas dengan merangkul Partai Katolik di Lomblen Selatan dan Kedang. Langkah berikut yang dilakukan terbilang nekad dan berani. Secara sangat vocal, ranting Partai Katolik di Lomblen menyampaikan pernyataan bersama untuk membentuk Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen.

Strategi Panitia Partai Aksi ternyata sangat jitu dan tidak murahan. Panitia Aksi ternyata tidak saja mengundang pengurus Partai Katolik Ranting Lomblen Utara, tetapi juga Ranting Lomblen Selatan dan Kedang. Panitia Aksi juga mengundang semua Kepala-kepala desa bersama pemuka desanya, Kepale-kepala sekolah dan guru-guru bantunya serta Partai Masyumi Cabang Kedang, untuk mengadakan Rapat Gabungan pada 7 Maret 1954 di Hadakewa.

Akhirnya rapat gabungan dapat terlaksana dihadiri oleh lebih kurang 300 orang. Rapat pada 7 Maret 1954 ini terdiri dari dua rapat. Rapat pertama dipimpin oleh Petrus Gute Betekeneng sebagai Ketua Panitia Aksi Perjuangan Rakyat Lomblen untuk membentuk Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen.

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar tentang cabang dan sub komisariat di Flores Timur dari ketua panitia aksi, rapat sependapat bahwa kalau di Larantuka Partai Katoliknya tetap cabang,  maka kita harus bentuk cabang Partai Katolik Lomblen. Tapi karena Larantuka sudah bentuk Partai Katolik Sub Komisariat, maka kita di Lomblen juga bentuk Sub Komisariat Partai Katolik. Akhirnya rapat secara aklamasi membentuk Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen dan membentuk tujuh cabang meliputi Paroki dan Tiga Puluh Dua Ranting meliputi wilayah sekolah dasar.

Setelah itu langsung dilakukan pemilihan pengurus Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen dengan susunan sebagi berikut, Ketua: Petrus Gute Betekeneng, Wakil Ketua: Bernadus Bala Klide Ledjap, Sekretaris I: Stanislaus Lela Tufan, Sekretaris II: L.K Kedang, Bendehara I: Frans Paji Letor, Bendehara II: P. Wuring Beding, Pembantu-pembantu: Theo toran Layar, Jan Notan da Proma, Y.B Liliweri, B. Sanga Key, Anton Fernandes dan Frans Daton Oleona.

Dalam rapat Komisariat itu juga konsep Statement yang telah disusun oleh Petrus Gute Betekeneng dijelaskan dan disetujui pula oleh rapat Komisariat. Lalu rapat diistirahatkan selama 15 menit. Rapat Komisariat yang merupakan rapat pertama yang digelar pada Tanggal 7 Maret 1954 pu itu ternyata menyimpan skenario yang lebih strategis. Kesepakatan internal Partai Katolik Sub Komisariat Lembata ternyata dijadikan kekuatan untuk menggelar Rapat kedua yang merupakan Rapat Akbar Gabungan yang hanya berselang 15 menit setelah rapat pertama.

Lahirlah Statement Tanpa Mesin Ketik

Rapat kedua dibuka pada pukul 11.30. rapat ini merupakan rapat gabungan Partai Katolik Sub Komisariat Lomblen yang baru saja dibentuk dan Partai Masyumi Cabang Kedang. Rapat ini dipimpin langsung oleh ketua partai Katolik Komisariat Lomblen Petrus Gute Betekeneng dihadiri oleh seluruh utusan partai Katolik dan Masyumi cabang Kedang yang dipimpin ketuanya Mas Abduk Salam Sarabiti dan Sekretarisnya Ambarak Baneher serta undangan lainnya. 

Pemimpin Lembata dari Masa ke Masa

Lembaga Eksekutif pemerintahaan di Lomblen pada era penjajahan Belanda, Jepang, nampak dari sejumlah jabatan yang pernah di emban pemimpinnya, seperti Bestuur Assisten Wilayah Lomblen; Len Laku Yn Wilayah Lomblen; Asisten Wedana membawahi Kepala Hamente (Kakang dan Kapitan), sewilayah Lomblen.

Pada tahun 1967 nama “Lembata” telah mulai memasyarakat menggantikan nama ”Lomblen” . dalam era ini nama Lembata mulai melekat pada lembar pemerintahan diawali dengan koordinator schaap Lembata, membawahi; 6 kecamatan yakni Kecamatan Buyasuri, Omesuri, Lebatukan, Ile Ape, Atadei, Nagawutun.

Koordinatorschaap Lembata Hingga Kabupaten

Di era Orde Baru, Lembata dijadikan wilayah pemerintahaan Coordinatorschap Persiapan dalam rangka persiapan pembentukan Kabupaten Lembata dipimpin oleh seorang koordinator Persiapan berkedudukan di Lewoleba membawahi 6 kecamatan di atas, Kemudian dikukuhkan menjadi Koordinatorschaap Lembata Definitif. Lalu meningkat menjadi wilayah kerja Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata.

Tanggal 1 Juli  1967 Lomblen beroleh status menjadi koordinator persiapan Koordinatorschap Lembata dalam rangka persiapan pembentukan Kabupaten Lembata dipimpin oleh Theodorus Thoran Layar (1967-1968) berkedudukan di Lewoleba membawahi 6 kecamatan. Penunjukan Koordinator Persiapan dibuat dengan SK Bupati KDH Swatantra Tingkat II Flores Timur No. Pem.666/I/67/SK tanggal 30 juli 1967. Tanggal 18 september 1968 statusnya dinaikan menjadi Koordinatorschap Lembata dipimpin oleh H.A. Labina (1968-1971) dengan SK Gubernur KDH Swatantra Tingkat I NTT No. Pem.66/2/4 tanggal 11 April 1968. Pada 22 Februari 1971 H.A. Labina diganti oleh Drs. Boly Tobi (1971-1975) dengan sekertaris Koordinatorschap Lembata H.Sumarmo, SH.

Dalam kepemimpinan Sumarmo, SH (1975-1980), Koordinatorschap Lembata berubah status menjadi Pembantu Bupati dengan sekertaris Drs. PB.Letor dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT No. 92 tahun 1975 tanggal 25 September 1975. Selanjutnya yang menjabat sebagai Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata berturut-turut adalah Drs. P.B. Letor periode 30 November 1980-16 September 1984 ; Drs. Antonius Patimangoe, periode 1984-1989; Drs. Philipus Riberu, periode 1989-1994; Drs. Stefanus Sengaji Betekeneng, periode 1994-1995; Drs. Stanis Atawolo, periode 1996-1999 Di antara Pembantu Bupati terdapat Pelaksana Harian (PLH) Drs. Andreas Duli Manuk dan Drs. Yosep M. Dawan, sejak 1996 Wilayah Kerja Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata membawahi 7 kecamatan, 112 desa dan 5 kelurahan, Ketujuh kecamatan dimaksud adalah Kecamatan Buyasuri, Omesuri, Lebatukan, Ileape, Nubatukan, Atadei, dan Nagawutun.

Pada Oktober 1999 Perjuangan Aspirasi Rakyat Lembata berhasil mewujudkan terbentuknya Kabupaten Daerah Tingkat II Lembata. Sebagai Penjabat Bupati yakni Drs. Petrus Boliona Keraf, (1999-2001) yang dilantik pada 12 ) Oktober 1999 sesuai SK Mendagri No. 121/3076/PUOD/1999 tanggal 7 Oktober 1999. Kemudian menyusul Bupati Drs. Andreas Duli Manu, dan Ir. Feliks Kobun. (2021-2006) Bupati dan Wakil Bupati Lembata, periode 2001 – 2006 dilantik pada 4 Agustus 2001; Drs. Andreas Duli Manuk dan Drs. Andreas Nula Liliweri, 2006-2011; Eliaser Yentji Sunur dan Viktor Mado Watun, 2011-2016; Sebelum terpilih pasangan bipati Eliaser Yentji sunur dan Dr. Thomas Ola Langoday, Drs. Pieter Sinun Manuk menjabat sebagai penjabat bupati lembata hingga dilantknya bupati hasil pilkada Eliaser Yentji sunur dan Dr. Thomas Ola Langoday, 2017 – 2022 setelah wafatnya Eliaser Yentji Sunur, akhirnya dilantik Dr. Thomas Ola Langoday, S.E sebagai Bupati Lembata. Setelah berakhirnya masa jabatan Dr. Thomas Ola Langoday, S.E dan nmengacu pada Undang-Undang Nomor 10/2016 mengenai pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 2024. Maka sejak Mei 2022 Kabupaten Lembata dipimpin oleh Penjabat Bupati. Marsianus Jawa tahun 2022-2023, Drs. Matheos Tan 2023-2024, dan Paskalis Ola Tapo Bali, S.T., M.T Mei 2024 - 2025.

Dari catatan di atas, sejak dibentuknya Koordinator Persiapan Koordinatorschaap Lembata hingga 2024, Pemerintahan di Lembata telah dipimpin oleh seorang Koordinator Persiapan; dua orang Koordinatorschaap Lembata, dua Pelaksana Harian Pembantu Bupati enam Pembantu Bupati,  lima orang penjabat bupati dan tiga orang Bupati. (sumber:  buku Lembata dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya; Thomas B. Ataladjar)