JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah naik daunnya Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi wisata, Kabupaten Lembata tak mau ketinggalan. Beberapa tahun belakangan, kabupaten ini gencar promosi pariwisata. Memang ada banyak potensi wisata di Lembata, tetapi kendala infrastruktur tak bisa dipungkiri.


 

 

"Infrastruktur masih ada kendala, tetapi sudah ada perbaikan. Misalnya jalan menuju Lamalera dari Lewoleba (ibu kota Kabupaten Lembata), sudah bisa ditempuh dua jam di tahun 2013. Dulu di tahun 2011, waktu tempuh sampai 4 jam," tutur Bupati Lembata Yance Sunur kepada Kompas Travel, di Jakarta, baru-baru ini.

Sebelumnya jalan antara Lewoleba-Lamalera berupa jalan tanah yang berbatu. Kini jalanan tersebut sudah aspal dengan perbaikan diutamakan di titik-titik yang memperlambat perjalanan. Lewoleba merupakan ibu kota Lembata dan menjadi akses masuk jalur udara ke Kabupaten Lembata yang merupakan sebuah pulau. Sementara Lamalera merupakan desa yang telah mendunia dan dikunjungi wisatawan mancanegara karena tradisi uniknya yaitu Baleo, sebuah tradisi penangkapan paus.

DOK INDONESIA.TRAVEL Menparekraf Mari Elka Pangestu di Kabupaten Lembata, Flores, Nusa Tenggara Timur

 

 

Yance menuturkan untuk penginapan, hotel-hotel masih terkonsentrasi di Lewoleba. Hotel-hotel ini memang belum ada kelasnya namun dianggap layak untuk wisatawan. "Kamarnya nyaman, ber-AC dan kamar mandi dengan shower air panas," ungkap Yance. 

Saat ini sudah ada satu hotel dan juga tengah pembangunan untuk hotel lainnya. Yance menambahkan total kamar untuk dua hotel tersebut, jika hotel sudah jadi, memiliki 100 kamar. Infrastruktur lainnya yang perlu dikembangkan adalah bandara.

"Bandara di Lewoleba saat ini panjang landasannya 1.200 meter, hanya cukup untuk pesawat Fokker 50. Saya berharap landasan bisa diperpanjang jadi 1.800 meter," ungkapnya.

 

 

Additional information