Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur Prioritaskan Pengembangan Sektor Pariwisata

 

Lembata sebagai sebuah kabupaten remaja yang memasuki periode ketiga pasca otonomi, kini menjadikan pariwisata sebagai lokomotif utama untuk menggerakan sektor lain dalam arah kebijakan pembangunannya. Di periode ketiga ini, dibawah kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur,  Lembata sungguh-sungguh tidak mau ketinggalan terlalu jauh lagi. Aneka gagasan terbilang berani dan cerdas digalang kader PDI Perjuangan ini. Upayanya menjadikan Lembata sebagai salah satu destinasi wisata nasional telah membuahkan hasil. Gagasan menggelar rally wisata bahari telah mencuatkan keindahan pesona alam dan budaya Lembata ke tingkat nasional. Launching rally wisata bahari serta kunjungan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Republik Indonesia ke Lembata adalah bukti kuatnya komitmen Bupati Yance Sunur untuk memajukan kabupaten kelahirannya melalui dan dengan pariwisata.

Berbarengan dengan kegigihan sang Bupati, aneka kontroversipun tentunya tidak bisa dilepas. Kritik tajam tentang minimnya infrastruktur dasar terutama jalan menggelontor deras dari berbagai pihak. Kontroversi ini adalah sebuah hal yang wajar karena langkah yang diambil Yance Sunur terbilang berani. Di tengah sangat minimnya sarana dan prasarana infrstruktur  penunjang, langkah dan strategi promosi pariwisata yang digalang  berlari demikian cepat. Olehnya kesiapan semua elemen di Lembata menyambut era baru pariwisata Lembata menjadi tanda tanya.

Ketika semuanya sudah di depan mata dan harus berjalan,lantas apa yang bisa dikatakan. “Keanehan” gagasan dalam kaca mata sebagian orang karena yang dilirik  justru bukan sektor pertanian dan perkebunan sebagiamana lazimnya Bupati-Bupati di NTT pada umunya. Kader PDI Perjuangan ini ternyata menyukai tantangan. “Keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia tidak bisa menjadi alasan untuk kita tidak mengangkat potensi kita. Pariwisata adalah potensi kita yang harus berani kita angkat ke tingkat nasional agar Lembata memilki nilai tawar. Saya sangat menyadari kekurangan yang ada tapi kita harus bisa mulai. Menjadikan pariwisata lokomotif tidak berarti kita mengesampingkan sektor lain tetapi justru menjadi kekuatan bagi sektor lain untuk bergerak maju.Saya gigih memperjuangkan ini karena hanya dengan mengangkat potensi pariwisata, Lembata bisa bergerak sedikit lebih maju dalam pembangunan kedepan”. Demikian yang sering diungkap Eliaser Yentji Sunur dalam pemaparan-pemaparan tentang kebijakan pembangunan Lembata di beberapa kesempatan.

Dorothia Nahak Ajak Umat Bangun Kerukunan

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA --Setiap agama mengajarkan umatnya untuk berbuat baik, bersikap toleran, saling menghormati satu sama lain walaupun dalam keberagaman. Tak satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan kebencian, mengajarkan permusuhan.


Hal ini dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Dra. Dorothia Nahak Betekeneng, M.H, dalam sambutan tertulis pada acara halal bi halal dan silaturahmi Badan Kontak Majelis Ta'lim di Loang, Kecamatan Nagawutun, belum lama ini.

Acara tersebut dihadiri Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, S.T bersama  pimpinan satuan kerja perangkat daerah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lembata, Mochtar Sarabiti, para camat se-Kabupaten Lembata, Pastor Paroki Mingar bersama umat dan undangan lainnya.

Dikatakannya, sikap keagamaan seseorang, senantiasa tercermin dari perilakunya dalam hidup bermasyarakat. Sikap itu juga mengantar seseorang untuk hidup menjadi lebih baik. Sebab agama bukan hanya mengandung aspek spiritual, tetapi juga mengajarkan aspek-aspek lainnya.

Dorothia mengajak seluruh umat beragama, khususnya tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat, agar bahu membahu membangun kerukunan dan kerja sama dalam menghadapi aneka persoalan di tengah masyarakat.

Kerukunan dan kerja sama itu, kata dia, sangat besar pengaruhnya dalam merenda kehidupan sehari-hari. Mengokohkan dua aspek itu, lanjut dia, bisa melalui silaturahmi, bisa melalui dialog, bisa juga melalui kerja sama yang intensif.
Harus diingat, lanjut Dorothia,  kerukunan dan kerja sama itu merupakan proses yang berkelanjutan. Untuk itu, sangatlah baik apabila setiap umat senantiasa merawat dan menumbuhkan dua item ini demi kemaslahatan hidup masyarakat.

Dia juga mengatakan, acara yang dilangsungkan di Loang itu, telah mencerminkan kerukunan dan kerja sama antarumat beragama. Pasalnya, untuk menyukseskan acara tersebut, semua umat beragama turut mengambil peran yang aktif.

Sebagai misal, lanjut dia, di Kecamatan Nagawutun itu, jumlah umat yang beragama Islam sebanyak 1.214 jiwa dan umat Katolik 9.245 jiwa. Semua umat bahu membahu menyukseskan acara tersebut.

"Ini mencerminkan kerukunan umat yang amat luar biasa di Kecamatan Nagawutun. Saya atas nama lembaga, memberikan apresiasi atas suksesnya panitia dan kerja sama semua pihak dalam menyelenggarakan acara tersebut. Saya bangga paduan suara dari umat Paroki Mingar dan majelis Ta'lim mampu menyanyikan mars Badan Kontak Majelis Ta'lim secara baik. Ini luar biasa," ujar Dorothia.

Dia juga menyebutkan, acara halal bi halal yang berlangsung di Loang, Ibukota Kecamatan Nagawutun, merupakan kegiatan yang keenam dalam enam tahun berturut-turut. Acara ini juga diselenggarakan secara bergilir dari kecamatan ke kecamatan.

Ia yakin, pada tahun-tahun mendatang acara seperti itu akan berlangsung lebih sukses lagi. Pasalnya, semua kecamatan, semua komponen, selalu berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik dalam acara tersebut.  (kro)

DPRD Lembata Terima Delapan Ranperda

 POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -Seluruh fraksi di DPRD Kabupaten Lembata menyatakan menerima delapan buah Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Lembata untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda).

Pernyataan itu disampaikan dalam rapat paripurna XII, Senin, (11/8/2014)  Fraksi Partai Golkar melalui juru bicara, Petrus Gero,S.sos, Fraksi PDI Perjuangan melalui juru bicara, Hyasintus Tibang Burin, SM, Fraksi Gabungan Kemudi melalui juru bicara, Hasan Baha, SE dan Fraksi Nurani Peduli Keadilan melalui juru bicara, Fredrikus Wahon menyampaikan pendapat yang sama.  


 

 

Rapat paripurna XII  dipimpin Ketua DPRD Lembata, Yohanes De Rosari, SE didampingi Wakil Ketua I, Hyasintus Tibang Burin, SM dan Wakil Ketua II, Yosep Meran Lagaur, S.Ikom. Dari unsur eksekutif hadir Sekda Lembata, Drs. Petrus Toda Atawolo, M.Si dan segenap pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tingkat Kabupaten Lembata.

Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan, Hyasintus Tibang Burin, SM yang juga Wakil Ketua I DPRD Lembata menyampaikan penghargaan kepada DPRD dan Pemkab Lembata karena telah secara cermat dan mendalam mengkaji dan menyikapi Ranperda Usul Inisiatif Dewan dan Ranperda yang diajukan pemerintah. Dari 11 (sebelas) Ranperda yang dibahas, tersisa 8 (delapan) Ranperda yang diproses penetapannya menjadi peraturan daerah. Semua ini dapat terlaksana dengan baik berkat pengorbanan dan kerja sama kemitraan yang harmonis.

Menurut Burin, dari delapan ranperda yang telah dilakukan asistensi di Pemprop NTT di Kupang, enam buah ranperda diantaranya mendapat persetujuan. Sedangkan dua ranperda lainnya disarankan agar dilakukan konsultasi ke pemerintah pusat, yakni Ranperda tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 3 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum dan Ranperda tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Lembata Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha.

Fraksi PDI Perjuangan mendesak Pemkab Lembata terus melakukan konsultasi ke pemerinta pusat pada masa sidang berikutnya.

Delapan ranperda yang telah dibahas dan diasistensi oleh Pemkab dan DPRD Lembata, yakni  Ranperda tentang Pedoman Penetapan Harga Tanah, Ranperda tentang Pengelolaan Pemakaman Dalam Wilayah Kabupaten Lembata, Ranperda tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur, Ranperda Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum, Ranperda tentang Perubahan Atas Perda Nomor  4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha, Ranperda tentang Perubahan Kedua Atas Perda Kabupaten Lembata Nomor  4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, Ranperda tentang Perubahan Kedua Atas Perda Kabupaten Lembata Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit lX Kabupaten Lembata dan Ranperda tentang Pertambangan Mineral bukan Logam dan batuan. (humas pemkab lembata)

Pariwisata Lembata Terkendala Infrastruktur

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah naik daunnya Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi wisata, Kabupaten Lembata tak mau ketinggalan. Beberapa tahun belakangan, kabupaten ini gencar promosi pariwisata. Memang ada banyak potensi wisata di Lembata, tetapi kendala infrastruktur tak bisa dipungkiri.


 

 

"Infrastruktur masih ada kendala, tetapi sudah ada perbaikan. Misalnya jalan menuju Lamalera dari Lewoleba (ibu kota Kabupaten Lembata), sudah bisa ditempuh dua jam di tahun 2013. Dulu di tahun 2011, waktu tempuh sampai 4 jam," tutur Bupati Lembata Yance Sunur kepada Kompas Travel, di Jakarta, baru-baru ini.

Sebelumnya jalan antara Lewoleba-Lamalera berupa jalan tanah yang berbatu. Kini jalanan tersebut sudah aspal dengan perbaikan diutamakan di titik-titik yang memperlambat perjalanan. Lewoleba merupakan ibu kota Lembata dan menjadi akses masuk jalur udara ke Kabupaten Lembata yang merupakan sebuah pulau. Sementara Lamalera merupakan desa yang telah mendunia dan dikunjungi wisatawan mancanegara karena tradisi uniknya yaitu Baleo, sebuah tradisi penangkapan paus.

DOK INDONESIA.TRAVEL Menparekraf Mari Elka Pangestu di Kabupaten Lembata, Flores, Nusa Tenggara Timur

 

 

Yance menuturkan untuk penginapan, hotel-hotel masih terkonsentrasi di Lewoleba. Hotel-hotel ini memang belum ada kelasnya namun dianggap layak untuk wisatawan. "Kamarnya nyaman, ber-AC dan kamar mandi dengan shower air panas," ungkap Yance. 

Saat ini sudah ada satu hotel dan juga tengah pembangunan untuk hotel lainnya. Yance menambahkan total kamar untuk dua hotel tersebut, jika hotel sudah jadi, memiliki 100 kamar. Infrastruktur lainnya yang perlu dikembangkan adalah bandara.

"Bandara di Lewoleba saat ini panjang landasannya 1.200 meter, hanya cukup untuk pesawat Fokker 50. Saya berharap landasan bisa diperpanjang jadi 1.800 meter," ungkapnya.

 

 

Additional information