Kamis, Oktober 18Pemerintah Kabupaten Lembata

RITUAL EHEQ UR LEKAN NAMEQ EHEQ UR LEKAN NAMEQ – TRADISI DAN PROSPEK WISATA MASA DEPAN

Semangat dan komitmen membangun kabupaten Lembata  oleh Bupati Lembata  Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai terus  digalakan. Potensi-potensi  unggulan digali dan di promosikan ke luar daerah.  Salah satu potensi andalan yang saat ini  sedang digali adalah potensi wisata budaya selain potensi wisata bahari dan wisata alam.  Salah  satu prospek  pengembangan wisata budaya adalah Ritual  “Eheq Ur Lekan Nameq” yang pelaksanaan ritual tersebut diikuti Bupati  dan Wakil  Bupati  Lembata  di desa Benihading 1.

Suasana desa Benihading mendadak ramai tidak seperti biasanya  sepi karena hampir sepekan wilayah pedalaman Buyasuri terus diguyur hujan hingga warga sulit beraktivitas. Dari kejauhan terdengar  alunan bunyi gong dalam berbagai nada     dipadu dentuman beduk bertalu-talu terdengar erotis dan harmonis simbol peradaban  masyarakat setempat. Kepala seksi Pos dan Telekomunikasi Marsel Molan sekaligus juru berita Diskominfo dari Benihading 1 melaporkan situasi saat itu ketika Bupati dan wakil bupati Lembata diagendakan berkunjung ke desa Benihading 1  pada Kamis, 18 Januari 2018. Kehadiran Pemimpin pemerintahan tertinggi di daerah itu  untuk memperingati 1 tahun deklarasi “Uyelewun Raya” saat dimana masyarakat yang hidup dibawah kaki gunung Uyelewun menyatakan sikap untuk menjaga persatuan dan kesatuan,  membina toleransi  dan persaudaraan yang dideklarasikan oleh sang deklarator Eliaser Yentji Sunur dan Thomas Ola Langodai  yang menahkodai Kabupaten Lembata saat ini.

Pukul 9.00 Bupati Lembata  dan rombongan tiba di desa Benihading 1. Gadis-gadis yang tergabung dalam sanggar  budaya  setempat berjejer menari menjemput bupati dan rombongan dan dilanjutkan  seremonial penerimaan sesuai tradisi setempat dan berarak menuju Ebang Meker.  Ebang meker merupakan deretan tiga Ebang (bangunan khas kedang)  simbol 3 leluhur yang menurunkan  warga masyarakat Benihading 1 yakni Nu’ung ehaq, Beni ehaq dan Etoq Ehaq. Di lokasi  inilah Bupati Lembata dan Wakil Bupati Lembata bersila di tanah beralas daun pisang (apasau) mengikuti ritual “ Eheq Ur Lekan Nameq ”  yang di seremonikan oleh  molan rian Leu Etoq warga desa setempat.

“ Eheq Ur Lekan Nameq”  diawali dengan beberapa persiapan antara lain   meletakan daun pisang di tanah untuk duduk bersilah yang di sebut kowal apasau. Setelah itu sang dukun duduk bersila bersama Bupati dan Wakil Bupati Lembata, pimpinan DPRD Yohanes de Rosari, dan pemimpin adat setempat. Persiapan selanjutnya adalah puli lapaq yaitu  batu batu ceper berukuraan kecil untuk meletakan bahan sesaji. Setelah itu dilanjutkan dengan heraq pangaleweq yakni barang kebutuhan seremoni berupa telur ayam, utas-utas benang, helai kain yang digunting  merah, hitam  atau warna lainnya sesuai keperluan yang kemudian sang dukun akan melakukan “behir”  yakni mengarahkan bahan sesaji yang terletak diatas liwang  puli luri (nyiru tradisional)  dan memutar-mutar didepan para pejabat yang hadir  sambil bermantera,” ude sue telu apa, ude sue telu apa uren apaq”  yang bermakna agar apa yang digunakan dalam ritual itu bermakna dan bermanfaat.   Setelah ini acara siap dimulai.  Sambil menuangkan tuak diatas batu batu kecil, mengiris iris kain hitam, siri dan pinang lalu memecahkan telur ayam dan meletakannya  di atas batu batu kecil, sang dukun terus bermantera, “  ling todi weq hen  keq  hapang awil eheq lakan,  ma  tebeq nueng mader nere, eheq meq ur lekan meq nameq, upil meq kala loman meq haur, nore meq mier renga deq derung, todi nore imeq rian hen nore woiq baraq, ka mara  bute nueng min mara te’el nere bute mara loyobohor te’el nore maq napun”. Yang berarti para leluhur boleh menerima sesajian dengan seegala kekuatan dan penjaga alam semesta untuk merenggangkan busur menyimpan anak pana, tumpulkan tombak simpan perisai dan boleh kembali pada tempat persemaiannya. Ritual ini berkaitan dengan keikutsertaan  para leluhur  uyelewun yang siap siaga menjaga paket sundai dalam  perhelatan politik  setahun silam.

Ritual terus berlangsung dengan poan manuq. Poan manuq ini seekor ayam jantan ditiup kepalanya tiga kali oleh dukun, diikuti Bupati dan Wakil Bupati, pimpinan DPRD  lalu pemilik ebang meker. Setelah itu    dukun akan meramas mulut dan kepala  ayam  jantan tersebut dan dibiarkan  tergantung menggelepar di tangannya  sang dukun terus bermantera” beq loeng lereng bitol hewal ote koda ria ari baraq uyelewun kayaq tene til denger mato mui Yance Sunur Thomas Ola seq parenta bisara, nikol udeq kara tikol nadan udeq kara tadan, waq udeq kara kodil lapan udeq kara balaq, se’i ahar puting oliq pireng. Kahuda min doha,ka rutaq min paroma,mani perenta bisara pene nore tukul surat neq nore uawei, wowo ne’e ma sampera uq ne’e rantaka uli odeq sadi lawang, poti hakal beyeng ketang mani perenta bisara wela ili kole watan tahiq buel” memohon para leluhur untuk memelihara dan  melindungi Bupati dan Wakil Bupati agar sehat walafiat,   bijaksana,  tetap kokoh  berdiri berkuasa memegang pemerintahan untuk membangun dan melayani ribu ratuq (sebutan masyarakat) seluruh Lembata.  Ritual diakhiri dengan boq utuq ale. Dalam ritual ini bagian dari ayam yakni ujung mulut, ujung kaki , ujung sayap  serta sedikit usus ayam akan diletakan di atas pusara batu-batu kecil untuk di berikan kepada para leluhur.

Usai   Ritual ayam yang sudah diseremonikan akan dibakar dan akan dipisahkan utuq ale. Utuq ale adalah bagian penting dari ayam yakni punggung bagian belakang, usus dan hati akan diberikan pada pemilik ritual sedangkan bagian lainnya akan dicincang dan dibagikan dengan  pisang bakar untuk dimakan. Ritual selesai acarapaling terakhir dengan bahir apa belesau yakni daun daun pisang yang ada akan diangkat buang. Ritual    penuh simbol dan syarat makna bernuansa mistik magis itu merupakan  tradisi memberi makan  sekaligus memohon para leluhur untuk melepaskan peralatan perang saat mengawal Paket Sundai dalam perhelatan politik setahun silam. Ritaual ini juga merupakan bagian dari rangkain acara” Satu Tahun Deklarasi  Uyelewun Raya.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur usai acara ritual tersebut menyatakan, Ritual-ritual adat dan   situs situs   budaya  adalah daya tarik pariwisata yang   tidak  boleh dieksploitasi dan  harus  di jaga keasliannya. Untuk pengembangan pariwisata budaya pemerintah telah menggagaskan kegiatan expo wisata budaya uyelewun raya. Untuk mensukseskan upaya expo budaya tersebut Bupati meminta kepala desa untuk fokus  dalam rencana kgiatan dengan membuka askses ke kampung lama sebagai pusat kegiatan.   “ Ritual-ritual  ini hal yang menarik dan ini dalah adaya tarik pariwisata yang terus dijaga keasliannya. Saat ini sedang dicarikan lokasi yang tepat untuk kegiatan expo wisata budaya Uyelewun Raya.  Saat ini masih dalam kegiatan iventarisir, identivikasi seluruh budaya yang akan ditampilkan dalam expo nanti.

Sebagaimana diliput dilokasi kegiatan usai mngikuti ritual “Eheq Ur Lekan Nameq”  Bupati dan Wakil Bupati beserta rombongan berarak menuju Halaman kantor desa Benihading 1 utuk acara pengresmian Kantor desa dan Puskesmas Pembantu desa Benihading yang ditandai dengan penandatanganan Prasasti oleh Bupati Lembata. Usai acara pengresmian tersebut Bupati dan rombongan menuju ke tenda utama mngikuti seluruhrangkaian acara 1 tahun Deklarasi Uyelwun Raya.  (M.Molan/Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *